You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Lape
Desa Lape

Kec. Kapuas, Kab. Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat

Sejarah Desa Lape

Administrator 04 Maret 2025 Dibaca 145 Kali

SEJARAH DESA

Desa Lape terbentuk dari Sub Suku Dayak Pangkodant. Sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia, Sub Suku Dayak Pangkodant ini sudah membentuk pemukiman yang disebut Laman/Ompu. Keberadaan pemukiman Sub Suku Dayak Pangkodant ini sering kali berpindah-pindah dari satu Ompu ke Ompu lainnya. Ompu/laman pertama Sub Suku Dayak Pangkodant berada di Semanai Mosu (ditinggal lalu dibakar karena ada hantu dan banyak penyakit)

 

Sub Suku Dayak Pangkodant kemudian berpindah ke Semanai Tigal. Tempat ini disebut Semanai Tigal, karena ada warga yang meninggal dan menurut cerita Onya Muntuh (Orang Tua), warga yang meninggal tersebut menjadi Hantu Kuntilanak, sehingga Ompu/Laman ditinggal (tigal) pergi oleh warga menuju ke Tembawang Kodant (di sekitar Rumah Betang Dori Mpulor sekarang). Pada saat bermukim di Tembawang Kodant terjadi peperangan Sub Suku Dayak Pangkodant dengan sub suku dayak lainnya. Karena itu, mereka kemudian berpindah tempat pemukiman lagi. Tembawang Kodant yang ditinggal oleh Sub Suku Dayak Pangkodant tersebut kemudian disebut Tembawang Alah (Alah dalam bahasa Sub Suku Dayak Pangkodant berarti “KALAH”). Dari Tembawang Kodant/Tembawang Alah, Sub Suku Dayak Pangkodant sebagian besar menyebar bermukim ke Tembawang Da’i (Pal 17 sekarang). Tetapi ada juga kelompok masyarakat yang melaman (bermukim) ke Sanjan dan Nyandang (selanjutnya disebut Sub Suku Dayak Kodant Sebiau); ada juga kelompok masyarakat yang menyebar bermukim Kelisek (Dusun Berancet sekarang), ke Keladau (Dusun Keladau sekarang), Sei Mawang dan Embaong. Ada juga kelompok masyarakat yang melaman di Lape (sekitar Sungai Lape). Masyarakat yang melaman di Tembawang Da’i kemudian berpindah lagi menyebar ke Sei Mawang, Embaong, Sajan, Nyandang dan Empoyang dan Sungai Lape. Mereka berpindah menyusul sanak keluarganya karena di Tembawang Da’i ditimpa bencana sakit kolera. Dari Tembawang Da’i, Sub Suku Dayak Pangkodant sebagian besar berpindah ke Empoyang. Dari Empoyang menyebar lagi ke tempat sanak keluarganya di Berancet (Kelisek), Keladau, Sanjan, Nyandang, Sei Mawang, Embaong dan Lape. Wilayah Empoyang kemudian tidak lagi menjadi Ompu/Laman.

 

Setelah Negara Republik Indonesia merdeka tahun 1945, sebutan Laman/Ompu yang menjadi pemukiman Sub Suku Dayak Pangkodant berubah menjadi Kampung. Pemimpinnya disebut Kepala Kampung. Masing-masing pemukiman Sub Suku Dayak Pangkodant memiliki pemimpin yang disebut Macan.

 

Salah satu kampung yang memiliki perkembangan cukup pesat adalah Kampung Lape. Kata “LAPE” sebenarnya tidak memiliki arti khusus. Kata LAPE yang digunakan oleh Sub Suku Dayak Pangkodant untuk memberi nama kampung ini sebenarnya berasala dari nama kayu “APE” yang tumbuh di tepi salah satu sungai yang ada di kampung tersebut. Menurut penuturan beberapa orang tua yang masih hidup sampai sekarang, perubahan kata “APE” menjadi “LAPE” sebenarnya karena pengaruhi kata “LOVE” yang dalam bahasa Inggris berarti “CINTA”. Kata “LOVE” ini sering diucapkan  para Misionaris Gereja Katolik yang menyebarkan ajaran Agama Katolik di kampung tersebut. Karena “akhiran” kata “APE” dan “LOVE” sangat mirip maka kemudian masyarakat menambahkan huruf “L” pada kata “APE”. Menurut beberapa penuturan orang tua, LAPE adalah pertemuan CINTA (LOVE) antara LAKI-LAKI dan PEREMPUAN.

 

Dalam perkembangan selanjutnya, Kampung Lape menjadi Pusat Kegiatan Sub Suku Dayak Pangkodant karena terletak di tengah-tengah wilayah kampung yang didiami oleh Sub Suku Dayak Pangkodant lainnya. Demikian juga, Pusat Pemerintahan Desa juga berada di Kampung Lape ini.

 

Kampung berubah menjadi Desa secara definitif terbentuk tahun 1987 dan Kepala Kampung Lape otomatis menjadi Kepala Desa. Kepala Kampung Lape waktu adalah Bapak Ignasius Dalau, maka beliaulah yang menjadi Kepala Desa Pertama sampai tahun 1993. Tahun 1993 dilakukan pemilihan Kepala Desa. Bapak Ignasius Dalau kembali terpilih Kepala Desa. Untuk periode 1993 – 1999. Selanjutnya, Kepala Desa Lape dijabat oleh Ades 1999 – 2001, Alius (2001 – 2006) Alius (2006 – 2012) Yohanes Yan (2012 – 2018) dan Nikodemus Nong (2019 – 2025). Sampai saat ini, Desa Lape meliputi 3 dusun, yaitu Dusun Lape, Dusun Berancet dan Dusun Keladau. Jumlah  Rukun Tetangga (RT) sebanyak 17 (tujuh belas) yang tersebar pada 3 (tiga) dusun; 7 (tujuh) RT di Dusun Lape, 6 (enam) RT di Dusun Berancet dan 4 (empat) RT di Dusun Keladau.

(Catatan: sejarah desa ini ditulis berdasarkan cerita atau penuturan orang tua yang masih hidup sampai sekarang. Sejarah ini bisa disempurnakan apabila ada kekeliruan)

APBDes 2024 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp 1.642.079.318,98 Rp 1.641.496.830,00
100.04%
Belanja
Rp 1.630.972.629,79 Rp 1.670.281.306,61
97.65%
Pembiayaan
Rp 39.891.165,80 Rp 0,00
100%

APBDes 2024 Pendapatan

Lain-Lain Pendapatan Asli Desa
Rp 2.165.000,00 Rp 2.165.000,00
100%
Dana Desa
Rp 1.061.287.000,00 Rp 1.061.287.000,00
100%
Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi
Rp 35.638.600,00 Rp 35.638.600,00
100%
Alokasi Dana Desa
Rp 519.896.230,00 Rp 519.896.230,00
100%
Lain-Lain Pendapatan Desa Yang Sah
Rp 23.092.488,98 Rp 22.510.000,00
102.59%

APBDes 2024 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa
Rp 623.233.629,79 Rp 633.478.918,00
98.38%
Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa
Rp 737.800.000,00 Rp 753.587.000,00
97.91%
Bidang Pembinaan Kemasyarakatan Desa
Rp 107.535.000,00 Rp 114.586.000,00
93.85%
Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa
Rp 65.204.000,00 Rp 70.540.000,00
92.44%
Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Desa
Rp 97.200.000,00 Rp 98.089.388,61
99.09%